Agile adalah: Pengertian dan Metode

Agile adalah: Pengertian dan Metode
','

' ); } ?>

Pernah dengar tentang Agile? Agile adalah salah satu metode pengembangan perangkat lunak. 

Selain pada pengembangan perangkat lunak, Agile juga termasuk sangat populer pada aspek project management. Mengapa demikian? 

Dilansir dari Hygger Blog, project yang menggunakan metode Agile memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, tepatnya sebanyak 28%. Terlebih lagi, sejumlah 86% software developers menggunakan Agile di pekerjaannya. 

Dari sini, kita dapat melihat bahwa metode Agile sangat menguntungkan, baik dari segi pengembangan perangkat lunak maupun project lainnya. 

Namun, apa sebenarnya yang disebut Agile? Dan kelebihan apa yang membuat Agile sering digunakan oleh software developers dan project managers?

Yuk kita simak pembahasannya melalui poin-poin di bawah ini!

Pengertian Agile

Agile adalah metode untuk pengembangan perangkat lunak dan project management. Metode ini dilakukan secara berulang. Biasanya disebut juga dengan iteration atau iterasi. Dengan metode Agile, proses pengembangan software dan manajemen proyek bisa menjadi lebih cepat. 

Selain itu, Agile adalah metode yang mementingkan pengguna. Apa maksudnya?

Ciri khas dari metode Agile adalah user-centric. Jadi, Agile sangat mementingkan kebutuhan pengguna atau konsumennya. 

Contohnya seperti ini. Anda sedang mengembangkan aplikasi ojek online. Dengan adanya virus Covid-19, banyak pengguna yang merasa tidak aman untuk bepergian menggunakan aplikasi Anda. 

Lalu, bagaimana Anda mengatasi masalah tersebut? 

(Sumber: Image by tonodiaz on Freepik)

Akhirnya, Anda mulai mendata driver yang sudah divaksin. Dari data tersebut, pengguna dapat melihat apakah driver yang mereka dapat sudah mendapatkan vaksinasi apa belum. Dengan begitu, mereka bisa merasa lebih aman. 

Sekarang, Anda sudah cukup paham kan bagaimana Agile bekerja?

Intinya, pengembangan perangkat lunak yang menggunakan Agile akan lebih up-to-date. Selain itu, prosesnya pun menjadi lebih fleksibel karena disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, serta kondisi saat ini. 

Nah, sekarang, yuk kita pelajari tentang metode-metode Agile. Simak ulasannya di poin berikutnya, ya!

Tujuan Agile

(Sumber: Browserstack)

Kira-kira, kenapa ya metode Agile harus dilakukan? Padahal kan, sudah cukup banyak metode lain yang bisa diterapkan pada proses software development. Nah, kita coba simak beberapa tujuan agile di bawah ini!

1. High-Value and Working App System

Sasaran utama adalah menciptakan sistem aplikasi yang bernilai tinggi dan berfungsi dengan baik. Ini berarti menciptakan perangkat lunak yang memiliki nilai jual yang tinggi sambil tetap mengendalikan biaya produksi seefisien mungkin. Nah, walaupun biayanya rendah, tapi kualitas aplikasi harus tetap tinggi.

2. Iterative, Incremental, Evolutionary

Agile adalah metode pengembangan yang sangat cocok untuk project jangka pendek. Mengapa demikian? Hal ini karena metode agile memungkinkan Anda untuk mengubah sesuatu di tengah jalan sesuai kebutuhan.

3. Cost Control & Value-Driven Development

Dengan agile, aplikasi atau software bisa dikembangkan sesuai kebutuhan user. Namun, di saat yang sama, biaya dan waktu tetap bisa dikontrol oleh tim software developers.

4. High Quality Production

Setiap iterasi atau pengulangan yang dilakukan bertujuan agar kualitas aplikasi bisa terjaga dengan baik. Hal ini bisa dicapai dengan menerapkan testing di tiap prosesnya.

5. Flexible & Risk Management

Metode agile memungkinkan proses software development untuk bisa beradaptasi dengan perubahan apapun. Hal ini untuk meminimalisir kegagalan sebelum aplikasi masuk ke proses deployment.

6. Collaboration

Karena metode ini dilakukan secara berulang, tim software developers akan sering bertemu untuk membahas issue atau feedback. Hal ini membutuhkan kolaborasi dan komunikasi yang baik di dalam tim.

7. Self-Organizing & Self-Managing Teams

Dengan metode agile, tim software developers bisa mengatur seluruh urusan aplikasi secara mandiri. Tentunya dengan dukungan dari team manager agar project nya berjalan dengan baik.

Metode Agile

(Sumber: Image by Freepik)

Ada sekitar delapan metode Agile yang biasanya digunakan. Setiap project pastinya menggunakan metode yang berbeda tergantung kebutuhan masing-masing. Namun, karena Agile adalah ‘payung’ nya, maka setiap metode tetap mengikuti prinsip Agile.

Berikut adalah kedelapan metodenya!

1. Kanban

‘Kanban’ terdengar seperti bahasa Jepang, bukan? 

Kata ini memang berasal dari bahasa Jepang. Tepatnya, Kanban memiliki arti “papan visual” atau “papan nama”. Intinya, kata ini merujuk kepada sesuatu atau sebuah sistem yang dapat dilihat. 

Jadi, metode yang satu ini mengandalkan visualisasi ketika mengembangkan dan me-manage sebuah project. 

Nah, dalam prosesnya, visualisasi pada Kanban didukung dengan kanban board. Jadi, setiap orang dapat mengetahui flow atau alur dari setiap project. 

Misalkan, tim Anda memiliki project untuk mengembangkan aplikasi Mobile dan Web. Nah, dengan metode Kanban, setiap anggota tim dapat melihat proses dari setiap pengembangan tersebut secara jelas karena adanya Kanban Board.

Selain itu, kata Kanban juga berhubungan dengan konsep “tepat waktu”. Maka dari itu, transparansi dari alur kerja dengan metode Kanban ini bertujuan agar project dapat selesai sebelum atau tepat pada waktu yang ditentukan.

2. Scrum

Kemungkinan besar, Anda pernah mendengar tentang Scrum. Metode ini bisa dibilang salah satu metode Agile yang paling populer. 

Scrum fokus pada metode pengambangan software yang rumit. Dalam praktiknya, Scrum dibagi menjadi beberapa siklus, tahapan, atau proses-proses kecil yang dinamakan “sprints”.

Dalam satu waktu, biasanya hanya ada satu sprint yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar lebih maksimal dan efisien. 

Setiap anggota tim yang melakukan Scrum biasanya memiliki peran masing-masing. Mulai dari product owner, scrum master, hingga software developers

3. Crystal

Ketikan mengerjakan sebuah project, biasanya kita fokus pada objek yang sedang dikerjakan, bukan? Namun, metode Crystal ini lebih fokus pada tim yang mengerjakan. Mengapa demikian?

Crystal dalam agile adalah metode yang lebih berfokus pada interaksi tim, dokumentasi, feedback, dan lain-lain. Metode ini memiliki prinsip bahwa pengembangan perangkat lunak akan lebih optimal jika disesuaikan dengan tim yang mengerjakan. 

Nah, biasanya, metode Crystal digunakan untuk project jangka pendek. Agar hasilnya lebih maksimal, maka prosesnya disesuaikan dengan tim. Salah satunya disesuaikan dengan jumlah orang yang mengerjakan. 

Dilansir dari Geeks for Geeks, metode Crystal memiliki tujuh tipe, yaitu: 

  1. Crystal Clear – Project dikerjakan oleh 1-6 orang. Biasanya untuk project jangka pendek.
  2. Crystal Yellow – Isi tim berkisar antara 7-20 orang. Tipe ini bergantung banyak pada feedback dari pengguna. Selain itu, automated testing juga dilibatkan agar error atau bug pada sistem bisa lebih cepat ditemukan.
  3. Crystal Orange – Tipe ini memiliki anggota antara 21-40 orang. Biasanya, projectnya bertahan antara 1-2 tahun. 
  4. Crystal Orange Web – Jumlah anggotanya sama persis dengan Crystal Orange. Bedanya, tipe yang satu ini tidak hanya fokus di satu project saja.
  5. Crystal Red – Isi tim berkisar antara 40-80 orang. Karena jumlah anggotanya sudah cukup banyak, maka biasanya akan dibagi lagi menjadi beberapa tim tergantung kebutuhan.
  6. Crystal Maroon – Nah, jumlah anggota tim di sini mulai menyentuh angka ratusan, yaitu 80-200. Sesuai dengan timnya, projectnya pun juga besar.
  7. Crystal Diamond & Sapphire – Tipe ini adalah tipe yang anggotanya paling banyak. Projectnya pun paling besar dan biasanya memiliki resiko yang sangat tinggi.

4. Extreme Programming (XP)

Metode yang satu ini fokus pada pengembangan yang berkelanjutan, serta kepuasan pelanggan. Jadi, tim pengembang akan sering berhubungan dengan user mereka untuk mendapatkan feedback

Dari feedback tersebut, tim pengembang akan mendengarkan dan menerima kebutuhan dari user nya, bahkan jika feedback tersebut baru muncul di akhir pengembangan perangkat lunak. 

Maka dari itu, metode ini terbilang cukup “extreme” karena tim harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan produk dengan kualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan user

5. Scaled Agile Framework (SAFe)

Metode ini biasanya digunakan pada perusahaan besar. Dengan jumlah tim dan anggota yang juga besar, sering kali pengambilan keputusan menjadi rumit. Proses pengembangan pun menjadi kurang efisien. 

Nah, dengan metode Scaled Agile Framework, masalah ini bisa diatasi. Kerja sama antar tim pun menjadi lebih efektif tanpa adanya birokrasi yang rumit. 

6. Lean Software Development (LSD)

Metode Agile yang satu ini adalah metode yang sederhana. LSD memiliki tujuh prinsip, yaitu: 

  1. Deleting what doesn’t matter – Hal-hal yang tidak bermanfaat akan dihapus dari project.
  2. Quality development – Kualitas pengembangan yang tinggi, begitu juga hasilnya. Sehingga bisa sesuai dengan kebutuhan pengguna.
  3. Knowledge creation – Dokumentasi dari keseluruhan proses pengembangan. Sehingga dapat menjadi acuan atau pengetahuan yang bernilai di masa mendatang.
  4. Defer commitments – Lebih fokus pada inovasi dan improvisasi daripada rencana yang telah dibuat.
  5. Delivery promptly – Memberikan hasil dengan value yang tinggi pada user secepat mungkin.
  6. Respecting the team – Komunikasi yang baik dengan tim dan problem solving sangat dibutuhkan pada metode LSD. 
  7. Optimize the whole – Pengembangan harus optimal sehingga hasilnya memiliki manfaat atau value yang tinggi. 

7. Feature Driven Development (FDD)

Seperti namanya, metode yang satu ini fokus pada fitur dari sebuah produk. Nah, pengembangan fitur ini harus diselesaikan secara tepat waktu. Biasanya, FDD diterapkan pada project berjangka pendek dengan skala kecil. 

Untuk menggunakan metode FDD, ada lima langkah yang harus diikuti:

  1. Mengembangkan model project secara menyeluruh 
  2. Membuat daftar fitur
  3. Membuat perencanaan berdasarkan fitur
  4. Mendesain fitur
  5. Membangun berdasarkan fitur

8. Dynamic Systems Development Method (DSDM)

Proses pengembangan software diharapkan bisa selesai dengan cepat dan tepat waktu, bukan? Nah, DSDM sangat cocok untuk mencapai tujuan tersebut. 

Selain itu, DSDM biasanya juga berfokus pada bisnis. Sehingga, pengembangan ini harus punya manfaat yang jelas pada bisnis, serta sesuai dengan kebutuhannya. 

Cara Belajar Agile

Nah, dari penjelasan di atas, Anda sudah cukup paham kan tentang Agile?

Agile adalah metode atau kerangka kerja yang memiliki prinsip “bertahap dan berulang”. Dengan begitu, proses pengembangannya dapat berjalan dengan cepat, selesai tepat waktu, dan tentunya dengan hasil yang berkualitas tinggi. 

Lalu, bagaimana cara belajar Agile? 

Metode Agile diterapkan di Immersive Program Alterra Academy. Contohnya adalah tipe SCRUM. Selain itu, Immersive Program juga menerapkan Agile Testing yang berprinsip pada agile software development.

Mau belajar lebih banyak tentang agile?

Yuk join Immersive Program!

Leave a Reply